Ini adalah blog lama dan untuk fallback.
Klik disini untuk menggunakan blog terbaru.

Puasa, Cinta dan Pelarian Diri dari Kebebasan


Erich Fromm selalu mengingatkan bahwa cinta juga merupakan spontanitas yang akan menyelamatkan manusia dari kesepian. Dengan mencintai manusia mengalami, menjalin hubungan dengan individu lain dengan lebih bermakna. Ia merasa lebih dekat dengan individu lain dan merasa dihargai oleh lingkungan sekitarnya.
Oleh : M. Abil Arqam

"Erich Fromm selalu mengingatkan bahwa cinta juga merupakan spontanitas yang akan menyelamatkan manusia dari kesepian. Dengan mencintai manusia mengalami, menjalin hubungan dengan individu lain dengan lebih bermakna. Ia merasa lebih dekat dengan individu lain dan merasa dihargai oleh lingkungan sekitarnya."


Apa makna kebebasan bagi manusia modern?


Perjalanan manusia menuju kebebasannya dimulai ketika manusia melepaskan diri dari ikatan primernya, melepaskan diri dari kesatuannya dengan alam dan menyadari bahwa dirinya adalah berbeda dengan realitas eksternalnya. Perjalanan kebebasan manusia bersamaan dengan proses kemunculan identitasnya menjadi individu, Erich Fromm menyebutnya sebagai "Individuasi". 


Dua sisi kebebasan


Kebebasan menurut Fromm terbagi menjadi dua sisi, yakni kebebasan dari dan kebebasan untuk. Kebebasan dari adalah kebebasan dari ketergantungan, dominasi serta pengaruh yang merugikan. Kebebasan untuk mengacu pada kebebasan dalam mengekspresikan diri. Individu harus memiliki kesempatan mengejar hasratnya dan mewujudkan potensi yang dimiliki. Namun kebebasan dari dan kebebasan untuk ini seringkali tidak beriringan, seorang individu yang telah bebas dari belenggu, tetapi dapat kehilangan kebebasan untuk karena terjebak dalam kebingungan dan ketidakpastian. Individu dapat merasa dirinya tidak mampu dalam menentukan arah hidupnya dan tidak yakin tentang apa yang benar-benar diinginkannya. 


Pada masa feodal, individu memiliki status yang jelas dan terikat pada peran sosial mereka. Perjuangan seorang individu untuk terbebas dari keterikatan tersebut mencapai puncaknya pada saat kemunculan kapitalisme. Dengan munculnya kapitalisme, individu harus memilih dan mengambil tanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri. 


Munculnya kapitalisme membuat perkembangan ekonomi terjadi lebih intens,  untuk pertama kalinya manusia terbebas dari feodalisme dan memutuskan ikatan yang telah memberinya rasa aman dan sekaligus membatasinya (hal. 52). Kapitalisme muncul dan menjadikan individu lebih leluasa menentukan pilihan mengenai jalan hidupnya. Namun di sisi lain kapitalisme menciptakan keterasingan antara individu, terasing dari lingkungan sosialnya dan juga alam. Kapitalisme menciptakan keterasingan melalui persaingan antar individu yang intens dan hasilnya manusia menjadi lebih banyak bekerja. Tak ada posisi pasti dalam masyarakat yang dapat dianggap sebagai posisi alaminya. Kini individu seorang diri; semuanya bergantung pada usahanya sendiri, bukan pada keamanan yang dijamin oleh status tradisionalnya (hal. 67). Hal inilah yang kemudian membuat individu merasakan ketidakpastian, merasa cemas, dan menyadari kesepiannya.


Fromm mengamati bahwa ketika individu kehilangan arah hidup mereka dan merasa tidak berdaya dalam menghadapi kebebasan yang luas ini, mereka mengalami kecemasan dan ketidakamanan. Sebagai respons, individu mencari keselamatan, mencari jalan untuk lari dari kebebasan. Mekanisme lari dari kebebasan berupa otoritarianisme, tendensi destruktif, dan penyesuaian (automation conformity). Otoritarianisme yakni kecenderungan seseorang untuk melepaskan kebebasannya sendiri dengan menggabungkannya dengan sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Tendensi destruktif yaitu keadaan dimana seseorang individu cenderung ingin mengeliminasi objek. Kondisi dimana individu akan berusaha menghilangkan atau menghancurkan penyebab keterasingannya atau justru melukai dirinya dan bahkan bisa sampai pada bunuh diri. Mekanisme lari dari kebebasan yang terakhir yakni penyesuaian, kondisi dimana seorang individu pasrah menyesuaikan dirinya pada keadaan, mengikut pada lingkungan sosialnya, ia menyerahkan kebebasannya kepada masyarakat. Perbedaan antara aku dan dunia lantas hilang, dan bersamanya turut hilang pula kesadaran atas rasa takut dari kesendirian dan ketakberdayaan. 


Lalu bagaimana kemudian individu yang menginginkan kebebasan, tetapi tetap tidak menjadi sendirian, terasing dan merasa tak berdaya? 


Bagi Fromm, manusia memiliki dua orientasi dasar:  Having (memiliki) dan Being (menjadi), memiliki: berusaha memperoleh, memiliki sesuatu, bahkan orang. Menjadi: berfokus pada pengalaman; bertukar, melibatkan, berbagi dengan orang lain. Fromm menganjurkan kita untuk mengatasi keserakahan untuk memiliki, ini sejalan dengan konsep puasa sebagai bentuk penolakan terhadap nilai-nilai konsumtif dan materialistik dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat yang terobsesi dengan kepemilikan dan konsumsi, yang menjadikannya individu yang terpisah dari alam dan masyarakat, membuatnya merasa sendiri dan kesepian, puasa menawarkan alternatif yang  lebih bermakna menjadi individu yang tetap bebas tanpa takut merasa sendirian. Dengan membatasi konsumsi, individu dapat mengalami kebebasan dan kepuasan yang sebenarnya dari hidup.


Puasa identik dengan konsep "menjadi" (being) yang berlawanan dengan "memiliki" (having). Dalam pandangan Fromm, masyarakat modern yang terfokus pada kepemilikan dan konsumsi, banyak orang hidup dalam kondisi "memiliki" yang membuat mereka merasa tidak pernah cukup, ia hanya fokus bekerja dan terus ingin memiliki sampai akhirnya merasakan keterpilihannya dengan lingkungan sekitar. Sedangkan, hidup dalam kondisi "menjadi" menawarkan kebebasan, kepuasan, dan arti yang sebenarnya dalam hidup. Dalam konteks puasa sebagai bentuk pendekatan yang lebih positif terhadap hidup. Dengan membatasi konsumsi dan menolak obsesi atas kepemilikan, individu dapat memperoleh keseimbangan yang lebih baik dalam hidup dan mendapatkan pengalaman yang lebih dalam dan bermakna. 


Fromm juga mengatakan bahwa hubungan spontan antara manusia dengan manusia lain dan alam dapat menyelamatkannya dari keterasingan dan kesepian. Spontanitas yang dimaksud adalah aktivitas bebas individu dan berimplikasi secara psikologis. Aktivitas bukan dalam artian "melakukan sesuatu" tetapi kualitas aktivitas kreatif yang dapat beroperasi dalam pengalaman emosional, intelektual, dan indrawi dan juga dalam kehendak seseorang.


Ketika manusia dapat hidup secara spontan, bukan secara otomatis barulah keraguan akan ketidakpastian dan kesepiannya akan hilang. Seorang manusia menjadi sadar bahwa dirinya menjadi individu yang aktif dan kreatif dan mengenali bahwa  "hanya ada satu makna dalam hidup: yakni menjalani hidup itu sendiri" (hal. 277). Dalam hal ini puasa dapat menjadi tindakan spontan manusia untuk meningkatkan kesadaran dirinya dan mengontrol hasrat untuk memiliki dan mengonsumsi, hal ini membantu manusia lebih dekat dengan dirinya dalam artian menemukan kediriannya sebagai individu yang berorientasi being. Puasa menjadi simbol solidaritas dan dalam melakukan puasa manusia mengalami kesulitan yang sama dengan manusia lain, sehingga tercipta empati dan kepedulian terhadap sesama. Terakhir, Erich Fromm selalu mengingatkan bahwa cinta juga merupakan spontanitas yang akan menyelamatkan manusia dari kesepian. Dengan mencintai manusia mengalami, menjalin hubungan dengan individu lain dengan lebih bermakna. Ia merasa lebih dekat dengan individu lain dan merasa dihargai oleh lingkungan sekitarnya.


Bacaan:

Erich Fromm, Lari dari Kebebasan


Kompasiana: Puasa sebagai Bahasa Simbol Universal: Membaca Makna Kemandirian, Solidaritas, dan Spiritual dalam Pemikiran Erich Fromm
Penulis: M. Abil Arqam

Posting Komentar

0 Komentar