Ini adalah blog lama dan untuk fallback.
Klik disini untuk menggunakan blog terbaru.

Ketulusan atau Keterlaluan?

Selamat datang di dunia imajinasiku, dunia yang dapat menjadikan siapa saja jadi apa saja sesukaku. Semoga kalian betah membaca hasil perenungan ini hingga titik akhir. Kenalkan namaku Budiman, kelahiran 5 Mei 1997, orang sering mengatakan bahwa aku suka membuat ulah, tidak jelas, suka bosan, menjengkelkan. Namun di sisi yang lain aku memiliki kesenangan berolahraga khususnya jogging, membaca buku, menulis dan kadang-kadang juga duduk di pantai serta mendaki gunung. Kopi tanpa gula beserta rokok telah tersedia di hadapanku. Pastikan bahwa kalian sedang dalam keadaan bahagia. Baiklah, mari kita mulai petualangan kali ini! 

"Pada saat kapan seseorang harus kembali, pada saat ia merasa tersesat ketika terus berjalan." Ambil posisi terbaik kalian dan masukilah duniaku setelah mengenalnya! 



Perempuan itu begitu malaqbiq (tidak ada sesuatu yang harus dicela padanya,) hampir tidak ada alasan untuk tidak memilihnya, ia begitu sempurna dimata pecinta yang brutal ini. Namanya Safarni (20+,) usianya tidak beda jauh dariku, orangnya cukup tertutup, tidak berisik, namun begitu perhatian. Kami bertemu di organisasi MP2 (Militan Perempuan Pejuang.) Menjalani aktivitas bersama, hingga akhirnya beberapa momen berhasil menghadirkan perasaan yang memaksaku untuk kembali menjadi Majnun.


Disetiap kegiatan yang memaksa kami bertemu, mataku selalu saja terfokus padanya, senyum yang merekah di wajahnya selalu saja berhasil memborbardir perasaanku, melekat pada ingatan dan mempertegas tujuan untuk memilikinya. Setelah mengulik beberapa informasi tentangnya, sepertinya agak sulit bahkan rumit untuk memasukinya, ada luka yang masih membekas di hatinya, salah sedikit maka hanya akan menambah lukanya, jadi sopan-sopanlah jika ingin bertamu. 


Waktu kian berlalu dan menuntut mulut untuk mengakui perasaan bahwa aku betul-betul menginginkannya. Namun fakta mengungkapkan bahwa perempuan itu juga baik kepada siapa saja, salah memahami atau baper duluan akan membuat siapa saja yang mendekatinya akan kalah. Sejujurnya aku telah bunuh diri sejak menaruh rasa padanya, aku sadar bahwa pada akhirnya aku akan kalah dan kembali hancur. Ya, walaupun demikian, kita harus tetap mencoba bukan, siapa tahu apa yang kita pikirkan bertolak belakang dengan apa yang Tuhan rencanakan. 


Penolakannya memang halus meski dampaknya kurang baik. Kabar diantara kami dengan cepat tersebar bagai virus corona, ada yang berusaha mengobati, tetapi ada pula yang berusaha membunuh. Mereka yang memahami kondisiku mencoba memberikan hiburan, entah itu dengan cara apa. Yang merasa terusik selalu saja berusaha membunuhku dengan beberapa metode. Namun yang dapat kupahami bahwa beberapa orang berusaha menyerangku menggunakan bahasa yang halus, bahasa yang harus dipahami dengan teliti. 


Jauh sebelum aku memasukinya, ternyata ada laki-laki yang telah lebih awal memulai star. Tahukah kalian siapa dia? Ya, dia adalah Sahrul yang merupakan sepupu satu kaliku. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ternyata Safarni itu telah memiliki pacar yang seorang anak band, dan mereka baru-baru saja jadian sebelum Sahrul memulai aksinya. Nasibku sama, namun endingnya tetap aku yang kalah. Disaat Safarni berpacaran dengan si anak band, Sahrul selalu mencampuri atau mengusik hubungan mereka berharap ia akan diberi ruang khusus. 


Upaya demi upaya terus dilakukan berharap mendapatkan hasil yang memuaskan hati. Namun setiap langkah yang diambilnya selalu saja disalah artikan. Kata gagal selalu terucap diiringi rasa kecewa. Hingga akhirnya rasa kecewa membuatnya harus berbalik arah dan mencoba mengambil takdir yang lain, hingga akhirnya Sahrul telah membangun kenyamanannya dengan yang lain, perempuan yang entah hanya pelarian atau memang pada akhirnya yang ia harapkan untuk menjadi ending.


Hubungannya dengan Indi, perempuan yang sekali tembak langsung tepat sasaran itu berjalan tidak cukup lama, dan yang menjadi penyebab utama hubungan mereka harus berakhir adalah karena aku mengarang cerita bahwa Indi telah memeluk laki-laki yang sempat berboncengan dengannya yaitu (Pi'i/Pe'i/Pa'i,) ah dasar nama yang selalu saja rumit kusebut,) sewaktu pulang dari berkegiatan di salah satu kampung yang bernama Pussui. Kampung dengan view yang dapat memanjakan mata, menenangkan pikiran, sekali berkunjung serasa ingin menetap lama. 


Berawal pada malam sebelum keberangkatan kami disiang harinya. Sahrul mengajak Indi untuk pergi bersama, namun Indi menolak pergi dengan alasan yang penulis kurang pahami. Malam pun berganti siang, seluruh anggota berkumpul di posko, mobil dan motor terlihat terparkir rapih di sepanjang bahu jalan. Masing-masing dari kami menaiki kendaraan, aku sengaja membawa motor dan menolak setiap orang yang ingin nebeng, mengingat kondisi motor dan medan yang cukup ekstrim, makanya aku putuskan untuk sendiri demi keselamatan masing-masing. 


Perjalanan akhirnya dimulai, iring-iringan terasa begitu menyenangkan. Rasa persaudaraan kembali begitu menguat, memaksa hati berterus terang bahwa apapun yang terjadi kita harus tetap solid. Jalur aspal berganti beton, beton berganti tanah dan bebatuan, dari jalan datar menjadi tanjakan membuat kami agak kesulitan dan mengharuskan untuk saling membantu. Beberapa diantara kami ada yang trauma dan tak ingin kembali, namun banyak juga yang begitu menikmati perjalanannya. Jika dipikir memang begitu menantang dan sangat menguji adrenali. Namun jika dijalani dengan sepenuh hati maka akan terasa menyenangkan. 


Upaya yang ekstra telah kami kerahkan hingga akhirnya berhasil tiba walau harus ngos-ngosan karena berupaya menyeimbangkan perasaan dengan akal, pertarungan yang benar-benar sengit, do'a dan harapan terus terucap berharap semuanya dapat tiba dengan selamat. Pada akhrinya Tuhan masih memberikan kasih sayangnya walaupun dibumbui sedik trauma. Warga setempat menyambut kami dengan antusias, menyediakan makanan serta memberikan pelayanan semaksimal mungkin. Hampir tidak ada yang mengecewakan, hanya saja ingatan akan medan jalan tetap saja menghantui. 


Masing-masing kami melakukan tugas dan menikmati kegiatan yang berlangsung. Waktu menjelang sore mengharuskan kami kembali pulang, disepanjang perjalan pulang itulah aku dan Sahrul terus bercerita mengenai Indi, "aku mulai jengkel dan telah memblokirnya, bahkan aku juga telah mengakhiri hubungan dengannya," Ucap Sahrul serius dengan wajah yang kurang semangat. Tidak lama setelah mengucapkan kalimat itu, Sahrul bertanya kepadaku, "saya akan kembali berjuang untuk mendapatkan Safarni, menurutmu bagaimana sepupu?"


Tidak ada yang dapat aku katakan selain memberinya dukungan, ya walaupun aku juga memiliki tujuan yang sama dengannya. Dengan jelas kukatakan padanya, jika ingin mendekati Safarni, aku harap kamu berhasil dan tidak melukainya sebagaimana kamu memainkan perasaan para mantanmu, berjuanglah dan semoga kali ini kamu berhasil, bukankah dia yang memang kamu harapkan. Terlalu asik bercerita, kami pun akhirnya kembali tiba dengan selamat di posko, rumah kedua yang selalu kami rindukan sebagai tempat pulang. Tubuh terasa begitu lelah, keheningan mulai tercipta, sunyi senyap hingga akhirnya kami semua...? 


Door... Door... Door!!! suara gebukan pintu begitu berisik memaksaku dan yang lain bangun. Setelah membuka pintu dengan keadaan masih setengah sadar, ternyata pelakunya adalah mama Dwy, entah mengapa mama gaul datang sepagi itu. Tidak ingin menyiksa diri, aku kembali tidur dan terbangun pukul 2 (dua) siang karena suara nyanyian Rudi yang begitu terngiang di telinga. Aku segera bergegas ke kamar mandi, membuang najis dan mencuci wajah. Lumayan segar. Aku dan Sahrul kembali melanjutkan cerita yang balum tuntas. Pada intinya Sahrul akan tetap berjuang untuk bisa mendapatkan Safarni. Pada kondisi dan situasi seperti inilah akal dan hatiku diuji. 


Aku tahu beberapa hal tentang Sahrul, bagaimana dia ketika berpacaran, dan bagaimana dia kepada perempuan-perempuan yang sedang didekatinya (bukan pacar/incaran baru.) memang hal itu tidak seharusnya aku campuri, tapi sejujurnya begitu berat rasanya jika membiarkannya mendekati Safarni, perempuran yang saat ini begitu kuharapkan menjadi bagian dari sisa hidupku. Sadar akan hak setiap orang, aku membiarkannya dan memberikan dukungan 100% untuk menjalankan tugasnya. Di sisi yang lain, aku juga berjuang, hanya saja dengan cara yang brutal. Target kami sama. Namun metode yang kami gunakan sangat berbeda jauh. 


Disaat Sahrul kembali memulai aksinya, aku dengan senyap mencoba keberuntungan, menyusup diam-diam berharap Tuhan akan memihakku. Serangan awal kumulai melalui Whatsapp dengan cara mengambil kontaknya dari grup. Awalnya komunikasi kami berjalan lancar, namun seiring berjalannya waktu, keanehan-keanehan mulai terlihat, Safarni tidak lagi responsif mengirim kabar, hal itu membuatku menjadi penasaran, instingnya seorang laki-laki, pasti ada laki-laki yang lebih gacor secara gerakan dan mampu memberikan kenyamanan yang lebih dalam melebihi dalamnya palung mariana (dasar laut terdalam di dunia.) 


Rasa penasaranku kian menggila tiap harinya, kuserang Safarni secara brutal, menginterogasinya disetiap waktu dan tempat tanpa memperdulikan perasaannya, siapa peduli, bukankah aku juga telah terjun bebas pada jurang kemaluan. Tindakan yang kulakukan ternyata sudah kelewat batas, membuatku harus semakin jauh darinya. Perlakuanku membuatnya tidak nyaman, setiap yang kulakukan selalu saja salah. Pesan serta panggilanku yang brutal tidak lagi mendapat respon kecuali penolakan, tentu saja itu melukaiku. Apakah aku menyerah, tentu saja tidak, justru rasanya aku semakin hilang akal, kuputuskan untuk mencari tahu apa penyebabnya. 


Insting menuntunku agar curiga bahwa Safarni telah dekat dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu memintanya untuk tidak merespon laki-laki lain. Untuk membuktikan kecurigaan itu, aku memulai langkah awal dengan cara menggali informasi dari sahabatnya yaitu Muhammad Ilham (Ilo) dan juga Ayu Amelia. Namun sayang, upaya untuk menggali informasi dari mereka hanya membuang-buang waktu saja, mereka menjawab tidak tahu, dan memintaku agar tidak kepo, terdengar bangsat bukan, hahaha. Angin lewat mulai berhembus lalu hinggap di telingaku. Ada apa dengan Rudi? 


Rudi begitu bucin dan juga wajib lapor kepada pacarnya (Nisa) yang berada di Makassar, mereka sedang LDR dan selalu saja mendapatkan ujian, hubungan mereka terlihat rumit, serumit belajar filsafat, dan tidak mudah sebagai mana memahamkan meterialis mengenai metafisik. Hubungan mereka sudah berjalan setahun hingga kabar bahwa Rudi ingin mendekati Safarni sampai ditelingaku. Ada apa ini, mengapa Rudi juga berfikiran ingin mendekati Safarni, ahh, kali ini betul-betul rumit. Sepertinya memang campur tangan Tuhanlah satu-satunya jalan yang dapat kuandalkan. Bersaing dengan mereka berdua membuatku terlihat jadi bodoh. Apa memang mundur adalah jalannya? 


Upaya yang kulakukan semakin terasa sia-sia, aku di mata Safarni semakin tidak berarti lagi, sebagaiman harga pangan di pasaran yang tiba-tiba anjlok. Demi mempertahankan kewarasan, aku memilih untuk putar haluan dan kembali pada kebiasaan yang dulu sebelum bergabung di MP2 yakni fokus berolahraga, membaca dan menulis. Setiap sore kuputuskan untuk jogging demi mengeluarkan racun di tubuh agar menghasilkan hormon serotonin (zat yang berfungsi mengatur suasana hati.) Setidaknya dengan berolahraga tubuh dan pikiranku jadi terasa jauh lebih baik. Bukan hanya olahraga, aku juga kembali mengolah akal dengan membaca buku-buku yang sekiranya aku butuhkan seperti filsafat, novel dan pendidikan yang melawan.


Hampir setiap sore ketika jogging aku bertemu Safarni dan juga Ayu, masing-masing kami hanya menyelesaikan tugas tanpa saling bertegur sapa. Rasanya memang berat ketika tidak menghampiri untuk menanyakan kabarnya, tapi apa boleh dikata, fakta bahwa hadirku yang tidak diinginkan hanya akan membuatnya semakin manjauhiku, kucoba untuk tetap menahan diri demi menjaga sisa jarak yang masih ada. Terkadang jika tidak melihatnya membuatku terasa gila, lantas mengapa ketika melihatnya aku merasa semakin terluka? Aku paksakan untuk mundur meski kutahu bahwa hal itu memang menyakitkan, sebab sadar diri jauh lebih menolong ketimbang harus bunuh diri. Mencintai boleh, tapi memaksa orang yang kita cintai untuk mencintai kita itu adalah kesalahan. 


Kecurigaan demi kecurigaan terus menghantuiku, menjadikan Rudi sebagai sasaran selanjutnya untuk menggali informasi (gara-gara kabar angin itu akhirnya Rudi menjadi korban.) Aku, Rudi, Sahrul dan juga Anto memang sering bersama, entah itu saat tidur atau makan, hampir tidak ada yang kami rahasiakan. Ketika sedang menikmati rokok dan juga kopi, pada waktu itulah kejujuran akan terungkap. Perempuan selalu saja menjadi topik utama dan menarik untuk kami bicarakan. 


Anto: menurut kalian, Ani itu cantik atau tidak?

Aku: cantik itu relatif. Kalau suka bilang saja, memangnya apa pedulimu dengan penilaian orang lain. 

Sahrul: yang cantik itu Safarni

Rudi: ia hanya bernyanyi, entah apa yang sedang ia pikirkan. 


Kalian tidak perlu tahu lebih jauh tentang inti pembicaraan kami waktu itu. Bagiku semua sudah jelas, kuputuskan untuk tidak lagi mengejar Safarni, kini yang betul-betul menghantui pikiranku adalah siapa yang Safarni inginkan, dan jika dia telah memiliki pacar, siapa laki-laki yang telah berhasil menjebol pertahanannya (Pertanyaan ini hadir setelah Safarni putus dengan si anak band.) Rapat besar waktu itu telah selesai, misiku kali ini tampaknya rumit dan perlu memakan waktu cukup lama untuk memecahkan teka-teki di antara mereka (nama-nama yang telah aku curigai.) Hari kian berganti, waktu terus saja berlalu memberikan informasi yang masih berupa teka-teki. 


Aku punya cara tersendiri untuk memecahkan teka-teki itu, meski terlihat konyol tapi itulah cara seorang pecinta brutal lakukan demi mengakhiri rasa penasarannya. Saat sedang sendirian dalam kamar, aku melihat hape Sahrul yang sedang tercas, kerena mengetahui sandinya maka kuputuskan untuk mengepoi percakapannya dengan Safarni. Ternyata pesan mereka telah dibersihkan, jadi aku mencoba mengabari Safarni menggunakan hape Sahrul. Jujur saja, aku begitu kaget, responnya begitu cepat, seolah-olah kabar dari Sahrul begitu ia harapkan, hanya perlu sekian detik untuk mendapat balasan pesan darinya, begitu berbeda dengan pesan yang aku kirim, butuh beberapa jam untuk mendapat balasan. 


Lantas bagaimana dengan Rudi, apakah balasan pesan dari Safarni selaju Sahrul? Masih menjadi misteri, namun tampaknya Sahrul selangkah lebih unggul dari Rudi. Sesekali kami memergoki Sahrul telponan dan juga ketemuan dengan Safarni. Semenjak saat itulah aku penasaran dengan hubungan mereka, disetiap Sahrul tidak kelihatan pada waktu-waktu tertentu pasti aku akan mencarinya di rumah Safarni, aku hanya ingin memastikan apakah dia benar-benar ada di sana. Orang-orang pun mulai mengetahui maksud disetiap kepergianku yang secara tiba-tiba. Ketika aku pergi secara tiba-tiba, itu karena aku ingin menemui seseorang. 


Ketidakpastian itu begitu menyiksaku dan rasa penasaran pun terus menghantui ingin segera mengetahui siapa yang menyibukkan Safarni sehingga aku menjadi begitu asing. Karena keasingan itu terasa begitu menyiksa, akhirnya aku mengambil jalan pintas berharap dapat meringankan sedikit beban yang kian lama makin mengerikan. Arming adalah satu-satunya teman yang mengerti dengan kondisiku, ramuan andalannya selalu mujarab untuk menenangkan pikiran, namun endingnya selalu saja menyusahkan Sahrul dan juga Rudi, mereka berdua selalu memberikan pertolongan disaat aku sedang kritis. Beberapa kejadian yang hampir merenggut nyawaku berhasil terselamatkan berkat mereka, syukurlah mereka tetap ingin mengerti disaat mengetahui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. 


Aku sering seperti itu, jika aku salah maka aku minta maaf, semua kulakukan semata-mata hanya ingin segera mengakhiri penderitaan karena rindu, hal itu terpaksa kulakukan walaupun akhirnya selalu buruk. Setidaknya sakit yang disebabkan setelah mengkonsumsi itu jauh terasa lebih baik ketimbang disakiti oleh kerinduan ingin bertemu. Dampak dari rindu yang tak terbalaskan memang begitu menyiksa, jika tidak segera mendapat pertolongan, maka bisa saja penderitanya akan mengalami penderitaan yang kian parah. Jika tidak mampu bersabar maka penderitanya akan semakin tersiksa. Betul kata Dilan, "jangan rindu, rindu itu berat."


Waktu itu aku mengabarinya secara brutal karena telah lama tidak mendapat kabar darinya. "Dimana?," tanyaku, "Rumah tanteku, kenapa?" Jawabnya, tanpa basa basi aku segera menuju ke rumah tantenya yang alamatnya telah kuketahui (dekat penjual bandrek samping SMAGA.)  Setibanya disana aku menelponnya berkali-kali dan mengiriminya pesan berharap ia akan menemuiku, cukup lama aku berada di depan, alih-alih ia membalas pesanku,  aku malah mendonor darah karena nyamuk sialan. Aku pun hilang kesabaran untuk terus menunggu ketidakpastian itu, kuputuskan beranjak dari tempat itu lalu segera menjemput teman SMP-ku bernama Khim untuk menemaniku pergi ke pantai cendrawasih. 


Waktunya relatif singkat, kami pun tiba, sunyi senyap. Namun itu terasa jauh lebih baik dibandingkan harus ada, tetapi keberadaan kita tidak dianggap ada. Bulan yang tepat berada di atas kami begitu indah, cahayanya merona menyamarkan bintang-bintang, suara deburan ombak serta hembusan angin laut begitu menenangkan hati, setidaknya aku sedikit merasa lebih baik. "Teriaklah kawan, keluarkan semua beban itu, semoga dengan itu kau dapat lebih baik," Ucap Khim yang begitu mengerti keadaanku. "Bangsaaaaaaaaat.... Anjingggggg..... Taiiiiiiiiiiiiii........ Ahhhhhhhhhhhhh...... Teriakku beberapa kali lalu menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara teratur membuatku merasa sedikit legah. 


Aku juga mondar mandir kesana kemari bagaikan orang yang begitu khawatir, Khim hanya melihatku dan sesekali memberi masukan. Kuputuskan untuk menghubungi Safarni, aku menyuruhnya untuk menyusulku dan memintanya agar datang dengan siapa saja. Aku betul-betul berharap bahwa rindu itu akan terkhianati. Jika saja malam itu ia menemuiku, kupastikan akan memeluknya erat. Penantian hingga pukul 03 subuh tak kunjung terbalas, dingin yang begitu menusuk memaksaku harus kembali pulang membawa rasa kecewa. Di sepanjang perjalanan pulang, Khim selalu saja penasaran dengan perempuan yang kali ini membuatku kembali seperti Majnun. Bukan tidak ingin memberitahukannya, hanya saja aku pikir waktu itu belum tepat. 


Setibanya di rumah, kuputuskan untuk menyetel kembali semua yang terlanjur kacau, pikiran, kebiasaan, jam tidur, kegiatan, spiritual, dan lain sebagainya. Kubuka kembali catatan-catatan kecilku, memilih buku bacaan yang insya Allah akan membuatku kembali jatuh cinta pada buku. "sayap-sayap patah" Oleh Khahlil Gibran, buku pertama yang menjadi meditasi setelah babak belur oleh perasaan,(Hanya perlu sehari semalam untuk menyelesaikannya) Dan kali ini aku membaca "sang penyihir dari portobello" oleh Paulo Coelho. Setelah mencoba merenungi kembali peristiwa demi peristiwa, banyak pelajaran yang mestinya aku ambil, seperti halnya, ketika seseorang tidak menginginkan kehadiran kita, maka kita harus tahu diri, jalannya adalah mundur, ketika kita merasa telah dikecewakan, jangan mudah marah lalu overtingking, boleh jadi kita yang salah, kita hanya perlu refleksi. 


Cobalah untuk sedikit lebih bersabar, lakukan pengembangan diri, nikmati hobi dan jangan lupa bahagia, sering-seringlah menghabiskan waktu bersama keluarga karena disana tidak ada kepalsuan, tataplah wajah dan rasakan kembali kehangatan kasih sayang mereka yang begitu tulus. Kita pergi sudah terlalu jauh, kita perlu kembali untuk menyembuhkan luka, keluarga memang obat ketika kita merasa porak-poranda di dunia luar, keluarga selalu mengingankan kita untuk kembali, keluarga selalu tahu apa yang terbaik untuk kita, lantas mengapa kita malah ingin menjauh, rupanya yang terjadi selama ini adalah kita telah membunuh akal dan membiarkan nafsu mengusasai kita. Pulanglah jika rindu dan bercanda guraulah dengan keluarga, pergilah ke pantai dan sungai bersama mereka, nikmati alam dan rasakan kasih sayang Tuhan yang begitu besar. 


Setelah perenungan itu, semua terasa jauh lebih baik, dan aktivitas berjalan sesuai dengan rencana, perasaan pun sudah agak membaik. Di waktu sore aku sempatkan jogging, kembali bertemu Safarni dan Ayu, terkadang aku mengajak mereka bercerita hanya sebatas teman, tapi mereka terlalu cuek, aku memperhatikan bagaimana mereka memperlakukanku, Ayu meresponku tanpa melakukan kontak mata dengan ekspresi yang datar, sedangkan Safarni seolah-olah tidak ingin diajak untuk berkomunikasi, dia selalu saja memakai headsed, perlu berulang kali bertanya serta memberikan isyarat bahasa tubuh agar dia peka, tapi percuma, dia selalu terlihat ketakutan ketika berada di dekatku. Setelah betul-betul memperhatikan sikap mereka yang itu-itu saja, aku putuskan untuk tidak lagi berlebihan dengan mereka, aku meninggalkan mereka tanpa kata dan tanpa berbalik. 


Malam kembali tiba, aku dan yang lain kembali bertemu di  posko, main ceki, karokean dan makan bersama. Kukira aku dapat bertahan lama untuk tidak merindukan manusia itu, rupanya malam itu ingatan kembali menghantuiku, rasa rindu kembali hadir menghampiriku, memaksaku kembali tenggelam pada khayalan. Putaran demi putaran terus berlalu hingga pada akhirnya, "Rudi amanji bensin mobil?" tanyaku, "iya" jawabnya. Dengan keadaan mulai oleng, aku segera pergi meninggalkan posko menuju rumah Safarni, sesampainya disana aku memohon agar dia ke luar menemuiku, aku hanya ingin melihatnya sejenak, kalaupun ingin mengajakku berbicara itu jauh lebih baik. Dikarenakan ada Satpo PP yang berjaga, Safarni menolak menemuiku dan hal itu kembali melukaiku. 


Rasanya kepalaku ingin pecah, sebelum 100% tidak sadarkan diri, aku segera mengirimi Safarni pesan agar seseorang datang menjemputku, sebab jika aku paksakan maka sangat mungkin dan yakin aku akan celaka dan menghancurkan mobil Ibu Salam. Setelah itu aku sudah tidak menghiraukan apa-apa lagi. Peristiwa itu terasa seperti mimpi, dengan samar-samar aku mendengar seseorang menggunakan motor berhenti didekat mobilku, membuka pintu lalu merangkulku, memindahkaku kebagian tengah mobil, aku berbaring dengan posisi ternyaman, beberapa menit kemudian mobil terhenti tapi aku tetap melanjutkan tidurku. Entah berapa lama aku tertidur, dan aku terbangun karena ingin muntah, setiap kali membuka mata yang kuliahat selalu saja berputar. Dengan sempoyongan aku berjalan memasuki posko, menuju kamar mandi dan memuntahkan minuman sialan itu, aku menyiram kepalaku lalu berbaring di dapur. 


Tiba-tiba saja sudah pukul 5 pagi lewat, sial, puncak dari efek minuman itu baru terasa, perutku terasa diremas oleh raksasa, kepalaku seolah ditusuk dengan ribuan pedang, sakit itu sangat menyiksaku, kukira waktu itu adalah hari terakhirku, dalam hati aku memohon kepada Tuhan agar tetap diberi kesempatan untuk hidup. Aku terus muntah sampai perutku terasa kosong, untung saja Sahrul masih ingin membantuku, dia memijat kepalaku dan juga tanganku, sementara Agu dan Rudi masih tidur karena begadang. Aku begitu lapar lalu meminta bubur.


Aku kembali tertidur dalam keadaan lapar, lalu kembali terbangun dalam keadaan sangat kelaparan, untung saja aku mengingat bahwa masih ada satu kotak nasi sisa semalam di dalam bagasi (nasi ayam geprek dari rumah ABM sewaktu pulang dzikir,) kondisi nasi dan ayam yang begitu keras sangat terpaksa aku makan demi bisa mengisi perutku yang begitu anarkis meminta keadilan. Bersyukur karena dapat kembali normal. Sisa waktu menjelang sore aku habiskan seperti biasanya, membaca, menulis, main HP, bersih-bersih. Sudah hampir sore, aku pulang mandi bersiap untuk olahraga. Beberapa putaran sudah cukup membuatku berkeringat, disaat mulai kelelahan aku melihat kak Kartinin Syam sedang berjalan sendiri, aku putuskan untuk lanjut berjalan bersamanya dan bercerita tentang betapa lambeturanya sosok berkacamata itu, (perempuan yang sempat kedapatan bergosip waktu itu.) 


Waktu kian menepis, kami segera bubar barisan mengakhiri cerita. Instingku tetiba menguat, mataku terfokus pada motor beat merah yang terparkir di bawah pohon, sepertinya aku mengenali motor itu, aku mendekatinya dan memarkirkan motorku tepat di samping motor itu, aku sengaja membuat pemilik motor itu dalam kesulitan agar dapat membantunya. Aku lalu berjalan mengikuti instingku berharap bertemu dengan perempuan yang aku cari, kurang dari 100 meter akhirnya aku melihatnya berjalan sendirian kearahku, aku menunggunya dan langsung melakukan introgasi, kenapa sendirian? terus kenapa tidak di arena balap? kamu sengaja menghindariku? kenapa pergi ke Campa sama Ria tidak bilang-bilang? kenapa waktu semalam aku ke rumah tantemu kamu tidak keluar? kenapa tidak menemuiku waktu aku di cendrawasih? lalu kenapa kamu bisa bersama Sahru di masjid? apakah kamu berpacaran dengan Sahrul? 


Pertanyaan demi pertanyaan terus kulontarkan tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab, aku terus menekannya hingga tiba di motor. Ia meresa begitu tertekan sampai-sampai harus gemetaran, mataku menatap tajam matanya hingga ia hampir menangis, aku memaksanya untuk menatap mataku saat berbicara dengannya, dan hal itu sungguh membuatnya takut. Ia memohon agar aku membiarkannya pulang karena ingin menjenguk temannya yang sedang berada di rumah sakit, (entah itu hanya alasan atau karena ia benar-benar muak denganku.) Ketika aku menyingkirkan motorku, ia merasa sedikit legah, namun pada saat ia lengah aku mengambil kunci motornya lalu mengantonginya, ia tidak menyadari itu, disaat ia sedang kebingungan mencari-cari kuncinya, "cari ini" sambil memperlihatkan kucinya ditanganku yang kemudian memasukkannya lagi ke dalam kantong. 


Dia terlihat semakin ketakutan lalu berkata, "kenapa kau memperlakukanku seperti itu, aku mohon berikan kunciku, aku ingin pergi ke rumah sakit," dengan raut wajah yang begitu ketakutan ia memohon agar aku dapat berbelas kasih. Hatiku sedikit luluh, ku ulurkan tanganku beserta kuncinya. Namun saat ia ingin mengambil kuncinya, aku kembali menarik tanganku lalu memasukkan kuncinya dalam bagasi motorku, rasanya dia ingin murka, tatapan matanya sudah tidak biasa lagi, baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Dia merubah posisi tubuhnya lalu mulai memainkan hapenya. Kukatakan padanya untuk menelpon Agu atau Sul yang sedang berada di pos agar datang membantunya, sejujurnya aku melakukan itu tidak lain hanya agar dapat melihatnya lebih lama lagi, ya walaupun itu harus membuatnya semakin tidak menyukaiku. 


Suara adzan maghrib mulai terdengar memaksaku harus memberikan kuncinya, dia pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun dengan hape yang berada ditelinga, entah dengan siapa dia bicara. Bukan manusia usil jika membiarkannya pergi begitu saja, aku lalu mengikutinya dan memepetnya beberapa kali, hal itu membuatnya semakin murka, "jangan mengikuti," Katanya sambil memohon, "aku akan bermalam di rumahmu dan menemui ibumu, aku akan bilang bahwa aku akan melamarmu," kukatakan itu serius lalu tersenyum padanya. Kulihat dia semakin ketakutan lalu menambah laju motornya, aku tetap mengikutinya sampai dia hampir terjatuh karena menginjak lubang, saat itu dia benar-benar memohon agar aku berhenti mengikutinya, aku tidak lagi mengikutinya disaat melihat matanya yang begitu ketakutan. 


Disepanjang perjalanan pulang, aku betul-betul dihantui rasa bersalah, kelakuanku kali ini benar-benar di luar batas. Setibanya di rumah aku langsung menambah daya baterai. Setelah mandi aku kembali bermain Hape, mencari kontak Safarni untuk meminta maaf, sepertinya aku sudah terlambat, semua pesan permohonan maafku ceklis satu (1,) kulihat juga profilnya sudah berwarna putih, dia memblokirku, sial, aku hanya tersenyum lalu berfikiran bahwa dia benar-benar membenciku. Beberapa jam kemudian aku melihat Sahrul memasang story dengan foto Safarni. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubunginya untuk meminta klarifikasi, katanya dia berpacaran sebelum Safarni pergi ke bulukumba. Namun mereka sengaja untuk tidak mempublikasikannya dengan dalih ada hati yang ingin mereka jaga. 


Sebelumnya aku sudah dengan tegas mengatakan kepada Safarni bahwa syarat aku menyerah hanya ketika dia telah memiliki pacar. Entah apakah mereka memang berpacaran atau hanya sekedar bekerjasama agar aku tidak lagi mengejarnya, aku tidak tahu itu. Namun hatiku dengan tegas belum meyakini bahwa mereka berpacaran. Saat itu Sahrul, Rudi dan Agu sedang ada job di Riso, aku meminta Sahrul untuk menjelaskannya lebih detail ketika tiba di posko. Sekitar pukul 1 malam mereka tiba, aku dan Sahrul menjaga jarak dengan yang lain demi kelancaran pembicaraan kami. Sahrul hanya tersenyum, dugaanku bahwa Safarni sudah menceritakan semua kejadian yang baru dialaminya tadi sore. Sahrul bercerita, "kami sudah cukup lama berpacaran, waktu aku sering menghilang, sebenarnya aku bersamanya, entah itu di rumah Retno atau di tempat lain, sudah lama aku ingin berkoar-koar mengenai hubungan kami, hanya saja Safarni memintaku agar manahan diri demi menjaga perasaan orang lain khususnya Indi. Tapi tiba-tiba saja dia memintaku untuk tidak lagi menahan diri, katanya, waktunya sudah tiba dan tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan."


Mendengar pernyataan yang baru sepihak membuatku masih ragu, aku ingin memastikannya juga dari mulut Safarni, "silahkan tanyakan langsung padanya jika kau masih ragu sepupu," ucap Sahrul mengakhiri percakapan kami waktu itu. Waktu terasa berlalu begitu cepat, malam akhirnya berganti siang. Aku sengaja ribut di grup agar semua kembali ramai berharap upayaku mengumpulkan teman-teman di posko berhasil. Ternyata yang kulakukan tidak sia-sia, malamnya kami kumpul sambil mengadakan makan bersama, suasananya ramai, rasanya begitu bahagia seolah-olah tidak ada masalah yang membebani. Safarni dan Ayu terlambat datang, kedatangannya begitu kunanti ingin menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Ria menghubunginya, katanya dia sedang beriap-siap menuju posko. 


Sekitar setengah jam menunggu akhirnya obat rindu itu datang juga. Bersyukur engkau terlahir ke bumi, bahagia sekali rasanya dapat mencintaimu. Safarni dan Ayu segera bergabung dengan yang lain. Suasana terlihat begitu hangat, ada yang berkelompok entah sedang membahas apa, ada yang bermain ceki, telponan, tertawa bahagia, ada juga yang sedang asik ngebucin. Aku duduk dekat trotoar mengamati semuanya, tapi mataku selalu saja tertuju kepada Sul yang begitu asiknya bercerita bersama Ayu dan Safarni, ah, entah apa yang mereka bicarakan, mengapa bisa sebahagia itu. Ketika hendak menghampiri mereka, tiba-tiba saja aku disuruh untuk memindahkan motor ibu-ibu yang ingin pulang lebih awal, tidak hanya itu, aku juga disuruh oleh Ibu salam mengantarkan bubur manado ke rumahnya, maksudku, seribet itukah jika ingin menemui Safarni, mengapa alam seolah-olah selalu mempersulit semuanya. 


Satu per satu tugas terselesaikan, aku berjalan ke arah Safarni dan tampaknya ia menyadari hal itu, kulihat dia mengajak Ayu untuk menjauh, entah kemana, mungkin berusaha menghindariku, "jangan coba-caba, kali ini aku tidak akan melepaskanmu," ucapku membatin sambil menghampirinya. Ayu, Sul, aku ada cerita yang perlu kalian dengar, ekspresi Safarni seketika berubah drastis, kenna kau, akhirnya aku berhasil. Kuajak mereka mengikutiku di pinggir trotoar, duduk di kursi yang telah aku sediakan untuk mereka. Tanpa basa-basi aku segera menyerangnya, kau pacarankan dengan Sahrul? Kenapa mesti menutupinya? Sejak kapan? Aku terus mananyainya secara brutal, tiba-tiba. Kalau mereka berpacaran kau mau apa? tanya Ayu yang sedang tersulut emosi merasa sahabatnya tertekan. Safarni hanya tertunduk diam, Ayu berbalik menyerangku. 


Menyimak perkataan demi perkataan Ayu, aku sudah menduga bahwa Safarni pasti telah menceritakan ke Ayu tentang bagaimana aku ke dia. Suasana semakin ramai, Unna, Suardi, Ria, Pute dan juga Sahrul ikut terlibat. Sahrul yang merasa tidak nyaman dan kasihan melihat pacarnya sedang tidak baik-baik saja segera angkat bicara, "iya, kami berpacaran, kenapa?" Semua tidak percaya dengan pernyataan Sahrul, lalu aku meminta Safarni untuk berterus terang apakah ia memang jadian sebagaimana pengakuan Sahrul, di saat dia merasa begitu tertekan dan terpaksa, akhirnya dia mengakui bahwa dia memang berpacaran.Suasana seketika kacau, Unna dengan gamblang dan lantang berkata, "bodo'mu, jangan mau sama Sahrul karena dia itu parakang.... bi, dengan sangat brutal Unna berkoar-koar dan menyerang Sahrul, katanya ia juga sempat melihat Sahrul di balik tenda bersama Indi. 


Namun sepertinya Safarni tidak perduli dengan perkataan Unna dan aku melihat Safarni merasa tidak menganggap itu sebagai masalah. Aku memotong pembicaraan dan kembali fokus menginterogasi Safarni, "apakah kamu berpacaran dengan Sahrul karena terpaksa?" mengapa tidak mengakuinya sejak awal biar aku tidak mengganggumu dan melakukan hal-hal bodoh seperti kemarin. Kalian jangan pernah menyalahkanku 100%, dalam hal ini kalian juga salah karena telah berusaha menutupi hubungan kalian, jika saja kalian mengakuinya sejak awal mungkin aku tidak akan seperti ini." Kata Ayu, "berhentilah karena semuanya sudah jelas, dan berusahalah memahami bagaimana sikap seseorang kekamu, jangan pernah memaksa seseorang memahami perasaanmu, bersikaplah dewasa diusiamu yang bukan bocah lagi. Pergilah dan jangan pernah mengusik Safarni." Perkataan yang sangat berkesan itu menjadi akhir dari kisah kali ini. 


Menampar tidak selamanya harus menggunakan tangan, Kadang-kadang melaui lisan lebih menyakitkan, sekian. 


Jika pada tulisan yang kalian baca ini terdapat kesalahan yang pada akhirnya membuat kalian murka, maka dengan sangat aku memohon agar dimaafkan. 


Budiman, orang yang sempat mengagumimu dengan brutal.


Penulis: Budiman

Posting Komentar

0 Komentar