Ini adalah blog lama dan untuk fallback.
Klik disini untuk menggunakan blog terbaru.

SEDIKIT CERITA TENTANG HARI INI

 

Rafi, Fikar & Rafa di Alun-alun Kota Polewali, Sabtu 14 Desember 2024

Seperti biasa, aku sedang membaca buku di alun-alun kota Polewali, mencoba menghabiskan novel karya Aan Mansyur yang belum selesai kubaca. Langit sore menyisakan sedikit cahaya keemasan, sementara deru kendaraan dan tawa anak-anak yang bermain menjadi latar suara yang mengiringi kesendirianku. Alun-alun ini selalu punya cara untuk memelukku, seolah mengatakan bahwa dunia yang kecil ini cukup untuk segalanya.

Tiba-tiba, tiga orang anak kecil datang kepadaku dengan senyum lebar di wajahnya. Aku mengenali mereka. Sebenarnya, aku sudah sering bertemu dan menyapa anak-anak ini dengan panggilan, "Hei!" karena jujur aku tidak tahu dan sering lupa menanyakan nama mereka. Setiap kali aku membaca di alun-alun atau mengikuti kegiatan piknik baca dan diskusi buku yang diadakan oleh Tomaka Bookclub, mereka selalu ada di sana. Kadang bermain, kadang meminjam komik atau buku cerita dari lapak baca yang kami sediakan.

Hari ini tidak berbeda. Anak itu, dengan rambut acak-acakan dan baju sedikit lusuh, menghampiriku lebih dulu. Ia melempar pertanyaan dengan nada polos, "Kak, kapan kegiatan baca buku lagi? Kemarin kutungguki, tapi tidak adaki kulihat."

Kalimat itu menancap di dadaku. Aku kaget sekaligus bahagia. Kaget karena pertanyaan itu keluar dari seorang anak kecil yang perawakannya seperti anak-anak yang gemar ngebolang—berkeluyuran dengan bebas hingga ibunya kewalahan menyuruhnya diam di rumah. Bahagia karena, di balik kesan bebas dan tak pedulinya, ia ternyata menyimpan minat yang tulus pada buku.

Aku menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan senyumku yang nyaris lebar. Dengan perasaan sedikit tak enak, aku menjawab pertanyaannya dengan cara mengkambinghitamkan cuaca. "Bulan Desember itu bulan yang nasuka sekali hujan" kataku sambil menatap langit yang mulai kelabu. "Saking senangnya, sering i nakasi banjir polewali. Jadi, minggu lalu kukasi pindah kegiatanku ke perpustakaan daerah di Sport Center Polman."

Anak itu tampak sedikit murung mendengar jawabanku. Aku tahu, minggu lalu memang tidak hujan. Tapi hidup selalu punya 'tetapi'. Maka aku menambahkan dengan suara yang lebih meyakinkan, "janjika, datangja kembali nanti ma'adakan kegiatan baca buku di alun-alun. Segera."

Janjiku membuat mereka kembali tersenyum. Rasanya seperti mendapat hadiah tak terduga. Aku lega. Aku baru menanyakan nama mereka saat itu: Rafi, Fikar, dan Rafa. Mereka masih duduk di kelas 3 di salah satu sekolah dasar di Polewali Mandar. Anak-anak ini, yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari keramaian, kini hadir di depan mataku sebagai alasan untuk terus melakukan apa yang aku cintai.

Karena mereka telah membuat hariku bahagia, aku siap mendengar cerita-cerita mereka. Rafi, dengan gestur penuh semangat, bercerita tentang petualangannya. Fikar bercerita bagaimana ia bisa mengenal rafa dan rafi. Rafa, yang lebih pendiam, hanya tersenyum sambil memeluk sebuah buku cerita yang kuletakkan di kursi saat meladeni mereka bercerita.

Sebagai bentuk terima kasih sederhana, aku membelikan mereka es teh seharga tiga ribu rupiah. "Doakan saja, lain kali hadiahnya bisa lebih wah," kataku sambil tertawa kecil. Mereka mengangguk riang, lalu kembali larut dalam obrolan khas anak-anak yang kadang tidak kumengerti.

Ketika mereka pergi, aku kembali merenung. Ada satu pertanyaan yang selalu muncul di benakku sejak aku mulai bergabung dengan Tomaka Bookclub: Adakah orang yang betul-betul tidak kukenali, yang kebetulan berjalan-jalan di alun-alun, lalu tertarik ikut dalam kegiatan ini? Atau paling tidak, melihat dan membaca buku-buku di lapak kami? Dan jika mereka sudah mampir sekali, akankah mereka mampir lagi?

Ternyata anak-anak ini hadir menjawab pertanyaan itu. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia? Mereka adalah bukti bahwa upaya kecil yang kulakukan bersama komunitas ini tidak sia-sia. Mereka adalah bahan bakar untuk terus mengadakan piknik baca dan diskusi buku, apa pun rintangannya.

Jadi, aku sangat berterima kasih kepada Rafi, Fikar, dan Rafa, serta anak-anak lain yang menghiburku hari ini. Mereka bukan hanya pengunjung lapak buku, tapi juga pengingat bahwa mimpi-mimpi besar seringkali lahir dari senyum kecil yang tulus. Mereka adalah alasan bagiku untuk percaya, bahwa seberapapun kecilnya usaha kita, akan selalu ada hati yang tersentuh olehnya.



Quote: Que sera sera
Kesibukan sehari-hari: Membaca, menonton, menyimak
Penulis: Fadli Muwahid






Posting Komentar

0 Komentar